Social Icons

Pages

Kamis, 25 Oktober 2012

Kitab yang Menyebutkan Dirimu

Dalam rentang petang yang hampir purna. Menjelang satu waktu yang dilarang seseorang melakukan shalat sunah. Ia duduk di shaf terdepan, ditinggal sendirian oleh jamaah lain yang sudah kembali beraktivitas usai shalat Ashar. Sayang, matahari tak merelakan sinarnya dinikmati barang sesaat. Ia tertutup awan kelabu semenjak Zuhur menggema. Angin musim dingin membuatnya harus menutup rapat jaketnya sampai leher. Ia sebenarnya tak ingin berlama-lama di masjid ini. Ibadah berantai baru saja dilakukannya, mulai shalat sunah, shalat berjamaah, berdoa, lalu sekarang:
“Nawaitu ‘itikafa lillahi ta’ala” dalam hati ia berniat.
Setengah jam sudah berlalu, tapi ia belum menemukan juga apa yang dicarinya. Kakinya mulai kaku karena karpet warna hijau lumut itu tak sanggup memberinya kehangatan. Pipinya yang berwarna putih berubah kemerahan disebabkan darah yang tak lancar. Pikirannya kini kembali tak menentu, padahal besok ia harus ujian pelajaran tafsir. Pikirannya bercabang kemana-mana; hutang yang belum terbayar, beasiswa yang terhenti, persiapan ujian mid semester yang berantakan dan pertanyaan ibunya: “kapan mau pulang?”
Buku psikologi yang kerap dibacanya tak dapat membantu. Teori-teori modern pengembangan diri juga tak mampu memberikan solusi kini. Hatinya tetap gelisah, pikirannya kalut. Ia akhirnya menyerah, karena ketenangan yang dicarinya tak kunjung datang. Ia bergegas pulang, ke kamar kostnya yang tak jauh dari masjid. Sesampai dikamar ia buka catatan hariannya, ingatannya tertuju pada tulisan refleksinya tentang keajaiban Al-qur’an. Diejanya pelan tulisan itu:
“Para sahabat dulu mempunyai perasaan yang tinggi dengan Al-Qur’an. Setiap masalah, kegoncangan jiwa, kesedihan, obatnya hanya satu yaitu Al-Qur’an.” Ia berhenti sejenak meresapi apa yang dibacanya. Lalu berlanjut,
“Seorang sahabat Ahnaf Bin Qais punya kebiasaan menarik, sebelum membaca Al-Qur’an, selalu terlebih dahulu ia membaca surat Al Anbiya ayat 10, ‘sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?’ lalu ia mulai membaca Al-Qur’an dan menemukan dirinya”. Hatinya terjaga begitu selesai membaca paragraf itu. Tapi setan membisikkan keraguan dalam dadanya. Benarkah dalam kalamullah itu ada dirinya? Adakah tempat di mana kegersangan jiwa yang dihadapinya mendapat solusi?
Sesaat kemudian, keyakinannya menguat, Al-Qur’an adalah obat apa yang ada di dalam dada. Maka ia pun bergegas berwudhu dengan menghadirkan hati, lekuk demi lekuk ia basuh dengan penghayatan. Usai berwudhu ia melakukan shalat sunah dua rakaat, dan memohon dalam sujudnya agar ditunjukkan dalam Al-Qur’an setiap permasalahan yang membuat hatinya gundah.
Al-Qur’an dibuka olehnya begitu saja dengan tanpa melihat suratnya. Ia memulai tilawahnya pelan dengan menghadirkan segenap perasaan, konsentrasi, dan berusaha memahami ayat-ayat berbahasa Arab itu. Jenak-jenak jiwanya bergetar saat membaca ayat 86 surat Yusuf, yang merekam perkataan nabi Ya’kub AS, ‘…sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…’
“Benar, Aku memang tidak pernah mengadukan setiap masalah kepada Allah. Aku mungkin sombong.” Lisannya berkata lirih.
Ia belum puas lalu melanjutkan bacaannya, jenak-jenak jiwanya kembali bergetar saat ia membaca surat Ar-Ra’d (Guruh) ayat 22, ‘dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik…’
“Ya Allah, betul. Aku memang belum bisa bersabar dengan baik. Aku sering marah hanya karena masalah kecil. Shalatku dan sedekahku belum sepenuhnya aku lakukan.” Ia mengakui kekurangannya.
Tilawahnya berlanjut hingga getar jiwanya ditutup dengan ayat 28, ‘…orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tentram.” Setelah itu ia tak sanggup lagi membaca, butiran-butiran bening membasahi pipinya yang ditumbuhi cambang lebat. Ia terisak menangis, betapa benar yang disebutkan Aal-qur’an itu. Betapa kesibukan telah melalaikannya begitu jauh dari mengingat Allah, organisasi, dan bisnisnya yang sukses pelan-pelan telah menjauhkannya dari berzikir kepada Allah. Tapi, diam-diam ia bersyukur. Kisah sahabat Ahnaf Bin Qais telah memberinya kepengalaman spiritual baru, dengan itu ia berniat meneladaninya. Jenak-jenak jiwanya kembali tenang. Namun, ingatannya kembali terjaga. Besok pagi ujian tafsir! Buku itu baru dibaca setengahnya. Ia bergerak meraihnya diatas meja.
Kemarin kawan saya menceritakan pengalamannya itu. Tanpa tanya yang banyak, saya langsung menyatakan tertarik dengan kisahnya itu. Darinya ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab,
“Bagaimana perasaan Anda dengan Al-Qur’an?”
Di dalam hati saya menjawab, “biasa-biasa saja.” Tapi jawaban yang keluar justru lain, “Saya belum mampu mentadaburinya.” Yang dibalas dengan senyum tipis oleh teman satu angkatan itu.
Hari ini saat-saat kejenuhan memuncak, karena rutinas kuliah dan pekerjaan jurnalistik yang terus bertambah, dalam diam saya mencoba apa yang dilakukan sahabat Ahnaf Bin Qais itu, mengingat-ingat dalam hati dan jenak-jenak jiwa yang letih.
“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?”M. Yayan Suryana
eramuslim .com