Social Icons

Pages

Sabtu, 24 Agustus 2013

Militer Indonesia

di masa depan nanti kekuatan militer indonesia akan semakin kuat,nantinya kekuatan militer indonesia juga akan didominasi produk lokal berikut beberapa alutsista yang akan menambah kekuatan militer indonesia baik tni au,ad,al.....

1.chang bogo class submarine
Setelah sekian lama duet KRI Cakra dan KRI Nanggala menjaga lautan nusantara, kini akan hadir – dalam waktu yang relatif dekat – 3 unit kapal selam baru untuk memperkuat armada kapal selam TNI-AL. Mereka adalah kapal selam kelas Chang Bogo buatan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. 2 unit diantaranya dibuat oleh DSME dan 1 unit sisanya dibuat di dalam negeri oleh PT. PAL dengan supervisi dari DSME.
Sebelumnya ramai diberitakan Chang Bogo bersaing dengan Kilo dari Rusia dan Scorpene dari Perancis juga Tipe 209/1400 buatan HDW – Jerman, namun atas dasar pertimbangan efisiensi biaya serta tawaran transfer teknologi pembuatan kapal selam oleh DSME membuat Chang Bogo yang menjadi jawara dalam tender TNI-AL mengikuti kontrak pembelian pesawat latih berkemampuan serang darat T-50 Golden Eagle LIFT yang akan menggantikan peran Hawk Mk.53 dan Hawk 100 TNI-AU.
Asal-usul dan Kemampuan
Kapal selam (KS) kelas Chang Bogo (CBG) milik Korea Selatan aslinya merupakan KS Tipe 209/1200 yang diketahui telah menerima berbagai modifikasi kelas berat sejak permulaan abad 21 diantaranya termasuk penambahan panjang lambung kapal menjadi setara KS Tipe 209/1400 dan Tipe 209/1500*, kemampuan untuk meluncurkan rudal sub-Harpoon, penggunaan sistem AIP juga sistem akustik penangkal torpedo baru (Torpedo Acoustic Counter Measures / TACM) yang dikembangkan secara mandiri oleh Korea Selatan.
Tidak hanya itu, CBG dapat dilengkapi dengan torpedo kelas berat baru buatan Korea Selatan – White Shark (Baek Sang Eo Torpedo) juga memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal anti kapal permukaan Hae Sung yang juga buatan Korea Selatan. Tidak lupa pemasangan sonar pada sisi lambung kapal selam telah direncanakan untuk pengembangan lebih lanjut.
Rentang Waktu
Sebagaimana diketahui, antara tahun 2004 – 2005 KS kelas Cakra (Tipe 209/1300, KRI Cakra dan KRI Nanggala) milik TNI-AL menjalani proses pemeliharaan di galangan kapal milik DSME, diantaranya meliputi peremajaan mesin kapal dan peremajaan sistem tempur dan pada awal tahun 2012 ini KRI Nanggala sudah selesai diremajakan dan akan kembali bertugas bersama TNI-AL pada bulan Februari.Selanjutnya pada tahun 2011, DSME memenangkan kontrak dengan Indonesia untuk membangun 3 KS kelas Chang Bogo (Tipe 209/1400) senilai 1.07 milyar dollar Amerika Serikat dan kapal selam tersebut memiliki kemampuan untuk meluncurkan peluru kendali. Proses pembangunan kapal selam tersebut dimulai pada awal Januari 2012 dan diperkirakan selesai dan dikirim ke Indonesia pada tahun 2015

Satu hal lain yang diketahui selain kemampuan untuk meluncurkan peluru kendali dan perangkat sonar yang lebih canggih ialah dari segi ukuran fisik Chang Bogo yang lebih besar 100 ton dibanding KRI Cakra dan KRI Nanggala yang memiliki kelas bobot 1.300 ton.

2.kf-x fighter
Proyek prestisius-ambisius pesawat tempur Korea/Indonesia Fighter Experiment (KFX/IFX) telah ditunda pada tahap pertama. Hal ini juga diungkapkan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Young-sun.
Dari ruang kerjanya, Kim menyatakan bahwa penundaan dari proyek pesawat tempur taktis-strategis ini sebagai suatu rancang bangun jangka panjang, jadi pihak Indonesia dan Korea Selatan sendiri tidak perlu merasa tergesa-gesa. Selain itu, menurut Kim, juga ada upaya untuk mengadopsi teknologi-teknologi terbaru untuk diimplementasikan ke dalam program KFX/IFX ini.
"Banyak aspek yang harus diperhatikan, maka dari itu ini menjadi sebuah proyek jangka panjang. Tentunya akan menyita banyak waktu, kita bisa menjalankannya pelan-pelan," kata Kim menambahkan.
Meskipun demikian, Kim mengaku sangat memahami ketergesaan yang mungkin muncul di Indonesia terkait dengan kepastian proyek KFX/IFX. "Kami paham sepenuhnya betapa penting proyek IFX/KFX, namun untuk saat ini kami masih mengkaji kembali kelayakannya," ujar Kim. 
Sebelumnya, pada awal Maret, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Sisriadi juga telah memastikan proyek KFX/IFX tidak dihentikan melainkan ditunda selama 1,5 tahun (hingga September 2014) melalui surat resmi yang dikirim oleh pihak Defense Acquisition Program Administration (DAPA) Korsel.
Ia mengatakan, produksi bersama pesawat KFX/IFX yang telah disetujui pada 2011 telah berhasil menyelesaikan tahap pertama, yaitu Technology Development Phase (TD Phase) pada Desember 2012.
Dalam pelaksanaan TD Phase selama 20 bulan, Indonesia dan Korea Selatan telah membentuk Combine R&D Centre (CRDC) dan telah mengirim sebanyak 37 tenaga ahli Indonesia guna bersama kolega Korea Selatan-nya merancang-bangun pesawat KFX/IFX.
Namun, kata dia, di dalam perjalanan mengikuti perkembangan politik dan ekonomi, pemerintah Korea Selatan melalui surat resmi yang dikirim DAPA, berinisiatif menunda pelaksanaan produksi selama 1,5 tahun (hingga September 2014). 
Penundaan ini disebabkan belum ada persetujuan Parlemen Korea Selatan untuk menyediakan anggaran yang diperlukan guna mendukung tahap EMD (Engineering and Manufacturing Development Phase) Program.
Sisriadi menjelaskan, ada tiga tahap proyek pengembangan pesawat tempur KFX/IFX, tahap pertama, pengembangan teknis, diikuti rekayasa manufaktur dan ketiga, pembuatan prototipe. "Tahap yang ditunda itu tahap kedua. Pada masa penundaan, pemerintah Korea Selatan akan melaksanakan studi kelayakan ekonomis terhadap program ini," kata dia.
Proyek pengembangan pesawat tempur KFX/IFX ini sebenarnya sudah menjadi inisatif Korea Selatan sejak tahun 2001. Kala itu, negara industri terkemuka di Asia itu dipimpin oleh Presiden Kim Dae-jung. Pada saat itu, Korea Selatan sudah meyakini bahwa proyek KFX sudah layak dikerjakan sejak masa kepemimpinan Kim Dae-jung, yaitu 12 tahun lalu.
Pada tahun 2010, Korea Selatan menawarkan kerjasama kepada Indonesia untuk mengembangkan KFX/IFX karena pertimbangan bahwa Indonesia adalah mitra tepat untuk itu. Saat itu, Korea Selatan menawarkan banyak hal, salah satunya transfer teknologi kelas tinggi dari pesawat tempur yang kemungkinan adalah generasi 4,5 atau juga 5. 
Belakangan, Indonesia memang cukup banyak membeli arsenal militer dari negara ginseng tersebut, dimulai dengan 12 unit pesawat latih KT-1B Wong Bee untuk TNI AU (yang digunakan JAT), overhaul kapal selam KRI Cakra-402 tipe U-209 milik TNI AL, hingga pembelian tiga unit kapal selam plus transfer teknologi, yang mana satu kapal selam terakhir akan dibuat di Indonesia melalui PT PAL.
Selain itu, tahap final pembelian pesawat latih-tempur T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan untuk TNI AU juga telah dilakukan. T-50 Golden Eagle ini menyisihkan pesaingnya, Aermacchi M-346 buatan Italia dan Yakovlev Yak-130 Mitten dari Rusia.
Korea Selatan sendiri sudah sejak lama "kesengsem" dengan Lockheed Martin F-22 Raptor Amerika Serikat guna memperkuat angkatan udaranya mengingat negara itu masih berstatus perang dengan Korea Utara. Namun, karena beberapa alasan, Amerika Serikat tidak mengabulkan permintaan Korea Selatan ini. 
3.midget submarine kate
ANGKATAN Laut Republik Indonesia (ALRI), yang kini bernama TNI-AL, pernah punya 12 Whiskey. Bukan minuman keras, Whiskey adalah salah satu tipe kapal selam buatan Uni Soviet. Dua kapal selam yang pertama datang dari negara komunis yang kini sudah bubar itu adalah KRI Tjakra dan KRI Nanggala. Dua nama tersebut memang menggambarkan kedigdayaan. Cakra adalah senjata sakti milik Prabu Kresna, raja Dwarawati. Nanggala adalah senjata tanpa tanding milik Prabu Baladewa, Raja Mandura, kakak Kresna.

KRI Tjakra dan KRI Nanggala dibawa langsung oleh prajurit TNI-AL pada 12 September 1959 setelah belajar di Oksiwi, Polandia. Hari itulah yang lantas diperingati sebagai hari kelahiran Korps Hiu Kencana atau satuan kapal selam. Seiring berkembangnya teknologi, kapal selam jenis Whiskey mulai pensiun. Terakhir, KRI Pasopati-410 (namanya diambil dari anak panah milik Arjuna yang menewaskan raksasa jahat Niwatakaca) mengakhiri masa tugas. KRI Pasopati lantas jadi monumen kapal selam di tepi Kalimas, samping Surabaya Plaza.

Saat armada kapal selam masih begitu aktif, Indonesia mengirimkan prajurit-prajurit terbaiknya untuk mengikuti pelatihan di luar negeri. Misalnya, di Jerman Barat dan Pakistan. “Saya merasakan keduanya. Ya di Jerman, ya di Pakistan,” kenang Dradjat Budiyanto. Kakek tujuh cucu itu benar-benar dididik untuk menjadi prajurit dengan spesialisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan) baru, yakni kapal selam. Memang, sejak berkarir di matra laut itu, Dradjat selalu berada di kesatuan kapal selam.

Dia belajar di Pakistan pada 1996. Kala itu, KSAL Laksamana Arief Kushariadi menginginkan alutsista matra laut yang terjangkau. Sebab, alokasi dana bagi TNI-AL begitu minim. Penugasan ke Pakistan tersebut juga merupakan “penolakan” secara halus terhadap rencana pembelian kapal selam baru tipe Scorpene dari Prancis. Kapal itu dibanderol USD 600 juta tanpa torpedo. Versi lengkapnya seharga USD 700 juta (sekitar Rp 7 triliun). “Terlalu mahal untuk TNI-AL saat itu,” ujar Dradjat.

Dia belajar bersama enam prajurit lainnya ke Pakistan karena negara itu sedang membangun dua kapal selam mini di Pakistan Naval Dockyard. Di kalangan mereka, kapal selam itu disebut midget. Itu adalah istilah untuk sesuatu yang mini alias kuntet atau kate. Nah, kapal selam kuntet itu hanya menghabiskan anggaran USD 13 juta. Jauh lebih murah daripada Scorpene made-in Prancis tersebut.

“Ditambah pengetahuan dari Jerman, saya bisa menciptakan sendiri desain midget saat kembali di Indonesia,” jelas suami Sri Hartini tersebut. Dradjat yang rambutnya telah memutih itu membuktikan omongannya. Dia membuka sebuah map merah berukuran 30 x 35 sentimeter. Isinya adalah konsep midget, kapal selam kate, yang dia ciptakan selama enam tahun sejak 1997.

Kapal rancangan Dradjat berbadan luar baja. Panjangnya 24 meter dan hanya berisi 11 orang. Awaknya adalah empat komando atau frogman serta tujuh pelaut. Karena berukuran kuntet, ia hanya mampu membawa empat torpedo. “Tidak bisa dikecilkan lagi ukurannya. Lha wong torpedonya saja delapan meter,” tegas pria kelahiran Madiun, 28 Januari 1943, tersebut.

Secara detail, Dradjat menjelaskan detail si kuntet tersebut. Katanya, kapal selam itu adalah substitusi kapal selam. Rancangan kapal selam yang dinamai Indonesia Midget Experimental 1 Baby Submarine tersebut bisa melakukan apa pun seperti kapal selam umum. Bahkan, ukurannya yang kecil membuat kapal selam itu susah dideteksi musuh. “Ibarat suara truk dan sedan. Mana yang lebih mudah didengar dari kejauhan? Truk, kan? Soalnya, lebih bising,” ungkapnya.

Pensiunan kolonel itu tak sekadar merancang dalam gambar. Dradjat juga berbicara khusus dengan penyedia pompa merek Lensen dan pompa pendingin Stork. Mereka diminta membuatkan pompa khusus bagi kapal rancangannya. Dari berbagai harga yang telah disurvei, kapal selam rancangan Dradjat tak bakal menghabiskan lebih dari USD 10 juta.

“Kita bisa membuat kapal selam yang lebih banyak, daripada membeli,” ujarnya. Dalam pemikirannya, kapal selam dalam jumlah banyak -walaupun mini- tetap ngefek untuk menjaga keamanan. “Ibaratnya, kampung yang punya hansip banyak. Lebih aman daripada hanya punya satu hansip yang jago kungfu sekalipun,” ujar pria yang menguasai bahasa Inggris, Jerman, Rusia, dan Jepang tersebut.

Agar desain itu tidak terkesan asal-asalan dan bisa diaplikasikan, dia mulai melakukan uji coba. Dradjat benar-benar tersenyum puas ketika sejumlah pihak menyatakan bahwa karyanya benar-benar aplikatif.

Misalnya, pengakuan dari Laboratorium Hidrodinamika Indonesia (LHI) BPPH/BPPT, National Ship Design Centre (NASDEC) Departemen Perindustrian, dan komponen teknikal angkatan laut -mulai Fakultas Kelautan Hang Tuah hingga Sekolah Tinggi
Teknologi Angkatan Laut (STTAL).

Howaldtswerke Deutsche Werft AG (HDW), pembuat kapal selam asal Jerman, juga mengakui ketepatan rancang bangun milik Dradjat. “Bukan asal-asalan, mereka semua menyetujui tanpa ada intervensi apa pun,” tegas ayah tiga anak tersebut sambil menunjukkan bukti dari HDW.

Sejak konsep itu selesai pada 2003, Dradjat mulai mempromosikan rancangannya ke berbagai pemerintah. Mantan KSAL Laksamana Arif Kushariadi dan Laksamana M. Arifin sebagai pencetus ide terus mendorong dirinya untuk mewujudkan kapal yang digadang-gadang lebih lincah karena ukurannya yang kecil itu. “Kemarin (12/10), KSAL Tedjo Edhy Purdijanto menemui saya dan meminta proyek tersebut terus dikembangkan, ” imbuhnya.

Dradjat kembali membuka map merahnya. Kali ini, dia ingin menunjukkan semua surat yang selalu disimpan secara rapi. Di situ ada tulisan konsep midget, filosofi pembangunan, deskripsi teknis SUVT (special underwater vehicle for touring) yang dikirimkan ke Menteri Pertahanan Yuwono Sudarsono, Menristek Kusmayanto Kadiman, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Asrenum Panglima TNI Marsekal Muda Rio Mendung Thaleb, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sejauh ini, instansi-instansi tersebut hanya membalas kiriman Dradjat dengan surat-surat pendek. Intinya, Dradjat harus menguji coba lagi midget rancangannya. Tak ada yang memberi kesempatan pembuatan satu kapal selam pun. Meski, Dradjat sudah menggaransi bahwa biayanya pasti tak lebih dari USD 10 juta (sekitar Rp 100 miliar). “Padahal, kalau apa-apa beli, kita ora pinter-pinter. Mencoba dan gagal lebih baik daripada diam saja,” ungkap pria yang pensiun pada 1999 itu.

Pada usianya ke-66, Dradjat merasa “iri” pada Letnan Angkatan Darat Israel Uziel Gal yang menemukan senjata Uzi. Dradjat juga melihat Michael Henrik Schmelter dari Jerman yang menemukan kapal selam mini 2Dive. Ide mereka mendapat apresiasi tinggi dari negara masing-masing. “Jerman berani mewujudkan karya Michael yang seorang pemuda. Saya yang 32 tahun berkutat dengan kapal selam tidak digunakan sama sekali,” ujarnya.

Bagaimanapun, old soldier never die (prajurit tak akan pernah mati). Dradjat tetap tak patah arang. Dia yakin kelak temuannya dipertimbangkan oleh pemerintah. Pria yang mahir bermain gitar itu akan menahan diri selama mungkin untuk tak melepas karyanya ke luar negeri. Meski, kata dia, sejumlah tawaran mancanegara telah mampir ke rumahnya di Jalan Teluk Tomini. “Saya anak bangsa. Akan setia sampai akhir kepada Indonesia,” tegasnya.

Tapi, tetap saja Dradjat berkata lirih. “Sampai kapan kita menunggu dan mencoba sendiri,” katanya. Bahkan, dia mengungkapkan bahwa saat ini tak banyak orang di pemerintahan yang punya jiwa pejuang tinggi. Kalah oleh Saridjah Niung Bintang Soedibjo alias Ibu Soed. Dia adalah seorang wanita yang mampu membangkitkan anak bangsa melalui lagu ciptaannya.

Perlahan, Dradjat menyenandungkan lagu ciptaan Ibu Soed yang begitu heroik. Nenek moyangku, seorang pelaut. Gemar mengarung luas samudera. Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa… !!!,yah meskipun belum pasti dipesan tni tapi masih ada secercah harapan mengingat harga yang murah dan spesifikasi yang lebih hebat dari midget submarine ghadir class

4.kapal cepat rudal kcr-60
Kapal Cepat Rudal Kelas 60 meter adalah salah satu jenis kapal Kapal Perang Republik Indonesia bertipe Kapal Cepat Rudal yang pembuatannya dilakukan PT PAL di Surabaya. KRI 60 meter yang 100% pembuatannya
di lakukan di PT PAL Indonesia, Surabaya. Kelas 60m merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang dalam pelaksanaan tugasnya mengutamakan unsur pendadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu singkat pula. Kapal berukuran panjang 60 meter, lebar 8,10 meter, dan berat 460 ton ini memiliki sistem pendorong handal yang mampu berlayar dan bermanuver dengan kecepatan 28 knot

5.tank leopard
 Berdiri di podium selama dua jam, mantan presiden RI ketiga, BJ Habibie terus memaparkan problematika di Indonesia. Mulai dari hal kecil hingga besar, mulai dari politik hingga militer.

Salah satunya terkait pembelian tank Leopard oleh Kementerian Pertahanan. Menurut Habibie, pemakaian tank tersebut tidak efisien di Indonesia.

"Lihat saja perang di Vietnam satu tank Leopard pun tidak pernah dimanfaatkan kok kita malah ikut-ikutan. Mau dimanfaatkan di jalan, rusak, mau di hutan, dibawa pakai kapal nanti keburu ditembak," kata Habibie berargumen di Bappenas, Jakarta, Jumat (8/3).

Bahkan dengan lugas Habibie menuding jika orang yang membeli tank Leopard sebagai orang bodoh pencari keuntungan. Makanya sudah sering kali Habibie terus mendorong pembatalan pembelian tank ini .

"Sekarang mereka bodoh beli tank itu untuk hanya untuk dapat uangnya. Kita harus tahu yang tepat di darat dan di udara. Saya sudah sampaikan pada yang bersangkutan supaya direview tidak tepat dan tidak wajar beli tank Leopard untuk pertahanan sipil," terangnya.

Pembelian Tank Leopard ini sempat menuai polemik. Kala itu sejumlah pihak termasuk DPR menilai tank kelas berat tak cocok digunakan di Indonesia. Tetapi Kementerian Pertahanan tetap bersikeras membeli 100 tank itu.

100 Tank Leopard dari Jerman pesanan TNI akan mulai datang pada tahun ini. Tank tersebut akan datang secara bertahap, selama tiga tahun. Pembelian menggunakan alokasi pinjaman luar negeri sebesar USD 280 juta.

Menhan Purnomo Yusgiantoro mengaku kalau Tank Leopard ini sesuai dengan permintaan TNI AD. Kemhan hanya memfasilitasi saja.

"Kita kan dengarkan spek teknis dari TNI AD, prosesnya bottom up. Mereka bilang bahwa untuk MBT dari Kemhan bilang MBT perlu, terus mereka bilang Leopard. Ini sudah diproses di mabes TNI, keluarnya begitu kan kita ikut," ungkap Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Istana Kepresidenan,meskipun sudah dipesan tapi belum semua dikirim ke indonesia

6.marder ifv
Bersamaan dengan pembelian main battle tank dari varian Leopard 2A4 dan varian Leopard Revolution, TNI AD setidaknya juga mendapat jatah 50 buah tank bersenjata angkut personel Marder 1A3, yang juga merupakan buatan pabrikan pertahanan Rheinmetall, Jerman.
Ditilik dari riwayatnya, tank Marder sebenarnya produk lama. Prototipe awalnya saja dirancang tahun 1960-an, dengan produksi perdana pada 1971, yang dilanjutkan dengan pengembangan sejumlah varian hingga tahun 1990-an. Bahkan, untuk saat ini sebagian tank Marder varian awal di Jerman sudah akan digantikan oleh generasi yang lebih baru yaitu Puma.
Meskipun begitu, kehadiran Marder di tanah air tetap akan menambah daya tempur TNI AD. Soalnya boleh dibilang inilah kali pertama TNI AD mengoperasikan kendaraan tempur lapis baja angkut personel yang memiliki daya gebuk jauh lebih baik dari yang selama ini dimiliki. Memang, dari segi pengategorian, Marder ini tergolong apa yang diistilahkan di dunia militer Barat sebagai infantry fighting vehicle (IFV), yaitu kendaraan tempur angkut infantri, namun dengan kemampuan tempur terbatas.
Salah satu ciri khas IFV seperti Marder adalah adanya kanon atau meriamnya berkaliber kecil, yang untuk Marder menggunakan Rheinmetall MK 20 Rh202 kaliber 20 mm . Kanon yang dipakai adalah dari jenis otomatis, artinya peluru tidak perlu di-reload (diisi) satu persatu. Peluru yang digunakan bisa dari berbagai jenis seperti amunisi konvensional, penembus baja serta high explosive (HE) atau amunisi berdaya ledak tinggi. Hal ini jelas tidak dimiliki oleh kendaraan angkut personel yang selama ini dioperasikan TNI AD yaitu AMX VCI serta Alvis Stormer, yang hanya dibekali senapan mesin berat kaliber 12,7 mm atau 7,62 mm.
Bagian belakang Marder 1A3 (Foto:Sonaz/Wiki)
Sebagai senjata tambahan, pada bagian kiri turret (kubah/menara) kanon terpasang sejajar senapan mesin 7,62 mm. Turret senjatanya busa diputar 360 derajat, sementara kanonnya bisa digerakkan vertikal dari -17 derajat hingga +65 derajat dengan kecepatan 40 derajat per detik. Sebagai tambahan peranti beladiri, Marder dilengkapi dengan tujuh pelontar granat kaliber 76 mm untuk melontarkan granat asap.
Desain interior Marder tak jauh berbeda dengan kendaraan tempur asal Eropa sejenisnya. Pengemudi duduk di sisi kiri depan, sementara mesin berada di sebelah kanannya. Di bagian tengah terdapat tempat untuk dua awak di bawah kubah meriam, di mana komandan kendaraan duduk di kanan dan juru tembak di kiri. Di bagian belakang terdapat ruang pengangkut enam personel infantri yang duduk beradu punggung, bukan berhadapan.
Marder menggunakan mesin diesel MTU MB Ea-500 enam silinder berpendingin cair yang mampu menghasilkan 600 hp (tenaga kuda). Pada varian awal Marder, mesin ini mampu memacu kendaraan hingga 75 km/jam di jalan mulus. Namun pada varian berikutnya di mana sudah tedapat sejumlah modifikasi yang membuat berat kendaraan bertambah secara signifikan hingga mencapai sekitar 35-an ton, kecepatan maksimalnya pun turun menjadi sekitar 65 km/jam saja.yang satu ini juga belum datang semua unitnya
7.helicopter carrier pal
Pemerintah mengalokasikan dana Rp70 miliar bagi pengadaan kapal induk kecil selama 2009 untuk memperkuat armada Badan Koordinator Keamanan Laut (Bakorkamla) dalam melakukan penjagaan dan pengawasan wilayah serta kedaulatan wilayah NKRI.

"Kapal-kapal tersebut akan diproduksi di galangan kapal dalam negeri dengan local content yang relatif tinggi," kata Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Bakorkamla, Laksamana Madya TNI Budhi Hardjo, seusai membuka seminar bertema Pengelolaan dan Pemahaman Perjanjian Perbatasan Wilayah Laut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Jakarta kemarin.

Menurut dia, kendati telah mengalokasikan dana Rp70 miliar tersebut, pemerintah tidak menutup peluang bagi negara lain untuk memberikan bantuan atau kerja sama. Hingga saat ini ada sekitar empat negara yang telah menawarkan bantuan untuk pengadaan kapal-kapal tersebut, antara lain Australia.meskipun begitu sepertinya tidak ada berita lagi mengenai kepastian tersebut.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar